Rabu, 03 Agustus 2011

Hidden Paradise Jilid 2 - Perang Saudara (Pengelolaan vs Pemanfaatan)

Kita mungkin pernah membaca novel karangan DAN BROWN pada seri "Angel and Demon" atau mungkin sudah pernah menyaksikan edisi bioskopnya. "ANGEL N DEMON" menggambarkan bagaimana seorang yang baik tidak selalu menjadi pahlawan, dan kebalikannya seorang yang jahat tidak selalu menjadi penjahatnya, justru musuh dalam selimut itu adalah orang yang disangka baik. Seperti dalam film itu, di note ini rekan2 ingin saya ajak untuk menilai sendiri siapa yang akan jadi ANGELnya dan DEMONnya, penilaiannya boleh dari sudut pandang mana saja, namun didalam note ini saya hanya menyampaikan beberapa informasi yang masuk dalam memori otak saya dan bener-bener mengganggu pikiran.


Pengantar
Tidak ada habisnya jika membicarakan tentang karimunjawa, entah sudah berapa catatan yang lahir jika kita berbicara tentang karimunjawa. Akan tetapi, coba rekan2 searching di google dengan kata kunci karimunjawa, maka yang akan muncul di layar adalah deretan info wisata di karimunjawa. Wow, seabrek info beragam mulai dari yang mematok harga wisata selangit hingga paket wisata karimunjawa dengan harga terjangkau untuk para backpaker ria. Coba sekali lagi ketik di google dengan kata kunci karimunjawa tertekan, maka hasil yang ditampilkan dilayar malah berita-berita tentang turis yang ketinggalan kapal atau malah berita yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kondisi alam karimunjawa.

Nah, sudah jelas dari semua tulisan dan berita tentang karimunjawa tersebut hanya sedikit sekali yang memberikan informasi kepada kita bahwa karimunjawa dan alamnya sedang tertekan. Kenapa tertekan? oke, saya sampaikan beberapa fakta yang mungkin jarang dibahas.


1. Wisatawan Karimunjawa Meningkat tajam dalam 2 tahun terakhir
coba tilik kembali berita tentang kisruh transportasi kapal angkutan umum yang menghubungkan karimunjawa dan jepara. Beberapa waktu lalu, jam pelayaran kapal ini di tambah dari yang hanya PP 3x dalam seminggu menjadi TIAP HARI PP dalam seminggu. Alasannya klasik, penumpang kapal menjadi semakin banyak, sehingga perlu waktu ekstra pengangkutannya. Padahal jumlah penduduk karimunjawa sendiri tidak sebanyak itu, jadi siapakah penumpang2 baru itu?? untuk menjawab pertanyaan diatas, saya mengambil paramater tentang jumlah biro yang ada. Info ini berasal dari rekan2 biro yang ada disana, sedikit saya korek informasinya.

Dalam setahun terakhir, jumlah biro wisata yang ada di karimunjawa bertambah, mungkin menjadi 2x lipat dari pada 2-3 tahun yang lalu. Seperti Efek Domino, biro-biro yang ada bersaing untuk mengejar pengunjung sebanyak-banyaknya. Persaingan tidak sehat pun muncul, dari mulai harga wisata sampai fasilitas pun terkesan dipaksakan harganya demi merauk pengunjung secara kuantitas. Apalagi ketika musim liburan datang, biro2 yang ada bagaikan hewan buas yang kelaparan dan butuh makan, keliatan sekali mereka sampai memaksakan jumlah dan jadwal pengunjung, alhasil lahirlah kekisruhan masalah transportasi.

jadi, siapa penumpang yang menjadi mayoritas di kapal dan memaksa pihak pengelola jasa transportasi kapal angkutan umum jepara karimunjawa untuk menambah jam berlayar, jawabannya yah warga karimunjawa dadakan alias wisatawan. Wisatawan yang memang berniat untuk berwisata dan menikmati alam karimunjawa.

Secara jumlah/kuantitative, jumlah pengunjung selama ini belum ada rilis resmi dari pihak terkait (Dinas Pariwisata Jepara/HPI Karimunjawa), tapi secara kualitas sudah bisa tergambar dengan jelas dari beberapa parameter diatas. Uniknya juga, sampai sekarang saya belum pernah mendapat data resmi yang pernah dirilis oleh pihak Dinas Pariwisata, berapa jumlah biro resmi yang ada di karimun, berapa jumlah guide resmi, atau data2 lain yang harusnya ada sebagai acuan pengelolaan. Nah, tidak ada data, terus bagaimana caranya buat di kelola??


2. Wisata bahari dan wisata ekologis dalam konsep HPI dan Balai Taman Nasional Karimunjawa
Karimunjawa menjadi salah satu magnet wisata baru di indonesia dengan konsep wisata bahari. Alamnya yang masih alami dengan lansekap alam yang nyaris membuat mata terlena menikmatinya, tutupan terumbu karangnya yang rapat menghiasi ke-eksotikan pulau2 kecilnya, serta hewan2 cantik yang bermain bersama karang dan birunya air laut. Nah, Magnet wisata bahari yang menjadi objek pemanfaatan oleh biro2 yang ada dikarimun dengan berbagai dalil paket wisata.

Namun, sangat kontradiktif jika kita melihat beberapa kegiatan yang dilakukan oleh pengelola/yang berkewenangan untuk mengelola alam karimun. Balai Taman Nasional Karimunjawa (BTNKj) merupakan bukan satunya pengelola alam karimun, namun yang paling memiliki kewenangan, karena setelah sebelumnya menjadi Cagar Alam, Karimunjawa kemudian ditetapkan menjadi BTNKj sebagai imbas dari UU yang baru, yaitu pengelolaan berbasis konservasi yang diaplikasikan dalam zonasi.

Konsep kegiatan yang dikembangkan oleh pihak BTNKj sesuai dengan program2 yang ada seperti wisata ekologis. Wisata ekologis sering dikenal juga dengan eko-wisata. berbeda dengan wisata pada umumnya, eko-wisata lebih menekankan pada edukasi ekologisnya dari pada wisata. Sehingga pihak2 yang terlibat dalam eko-wisata harusnya memiliki kesadaran ekologis juga. Hal ini tidak lain adalah sesuai dengan UU tentang Konservasi SDA yang menyebutkan bahwa, daerah konservasi memiliki potensi pemanfaatan yang dilakukan secara bertanggung jawab sehingga menjamin suistainabilitas (Keberlanjutan).
[UU no 27 tahun 2007 tentang PWK dan PP No 60 tahun 2007 tentang Konsevasi SDI]

Perbedaan yang sangat mencolok antara konsep yang di usung oleh HPI (biro2 dsb) dengan konsep yang ingin dikembangkan oleh pihak BTNKj. Perbedaan yang akan memunculkan konflik baik itu antara HPI dengan BTNKj maupun antara warga sekitar yang pastinya memiliki duaisme (perbedaan) pendapat antara pro BTNKj dan kontra BTNKj. Dan memang telah tercatat sudah beberapa kali terjadi simpang pendapat antara 2 pihak ini yang melibatkan masyarakat. Konflik yang sebenarnya wajar terjadi dalam suatu proses pendewasaan masyarakat ke arah konservasi.

3. Alam Karimunjawa yang terjajah
2 pihak dengan 2 kepentingan yang berbeda, seperti berlomba-lomba siapa yang akan menjadi pemenangnya, namun bagi alam karimunjawa, siapa yang akan jadi pemenangnya dia juga akan tetap terjajah. Perkembangan positif pariwisata yang ada dikarimunjawa yang terkesan tanpa batas ini pada saatnya akan menjadi bumerang. Ibarat bunga yang punya madu, lama kelamaan jika terlalu banyak dihisap oleh kumbang maka madunya akan habis juga.

Sampai sekarang belum ada pihak yang berani menyatakan apa yang sudah terjadi di karimunjawa, entah itu pemanfaat atau pengelola. sepertinya 2 pihak tersebut masih sama2 yakin bahwa madu yang masih bisa dihisap masih banyak, dan tidak usah kawatir bakal tidak kebagian. Padahal, contoh pengelolaan yang salah dan terlambat untuk diantisipasi sudah banyak contohnya. ambil misal di kepulauan seribu, apa yang terjadi sekarang? Kerusakan Alam karena overload pemanfaatan dengan minim aksi tegas pengelolaan.

Beberapa tahun mendatang sangat mungkin terjadi degradasi alam karimunjawa. Salah satu contoh yang sudah terjadi sekarang adalah bagaimana turunnya pendapatan petani rumput laut di karimun, sebagai dampak dari turunnya kualitas perairan karimunjawa. Nah, indikasi turunnya kualitas perairan ini jika tidak segera diantisipasi dengan tegas maka tinggal tunggu waktu saja akan mengalami kerusakan parah.


Penutup
nyanyian burung raptor di depan PSA Pulau Menjangan Besar seperti sedang bercerita..
tentang kesedihannya menjadi saksi setiap hari terkurung dalam sangkar,
menatap dan mendengar suara gelombang yang tak lagi seganas dahulu,
suara gelombang yang kalah dari suara riuh manusia di pulau seberang.

Ada apa gerangan banyak manusia yang datang kesini?
muncullah harapan, siapa tahu saya bisa bebas dari sangkar ini....
namun, tidak ada satu manusia yang mengerti, mereka hanya memandangku layaknya binatang di kebun binatang, lempari saya ikan maka saya akan terbang mencabik cabiknya, namun masih di dalam sangkar...tidak kemana mana..

tidak ada satu manusia yang peduli pada gelombang, karang, ikan, dan saya...
tidak ada satu kesadaran untuk belajar menghargai alam karimunjawa............


by jojkalien 2011
artikel terkait  http://aliennature.blogspot.com/2011/04/hidden-paradise.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar